September 20, 2012

Diatas aspal Bekasi Barat

Dan kekasihku pun berpisah arah pulang di dini hari tadi, menyisakan sepi dan rindu yang masih memburu didalam mobil biruku. Seketika itu pula kudapati Nina memasuki mobilku dengan langkahnya yang ringan seperti biasa dan menduduki jok belakang dengan tenang.

"Halo Nina. Tengoklah. Aku baru saja menemukan harta karun", kataku sambil menepuk-nepuk bungkusan disamping jok ku. "Sekian lama aku merindukannya".

"Itu makanan rakyat", ujarnya.

"Namun begitu sulit mendapatkannya.
Terasa macam berburu harta saja".

"Apa istimewanya?"

"Aku merindukannya. Aromanya menerbangkanku pada potongan ceria masa kecilku. Kue hangat berbahan tepung yang tersuguh diwarung, itu pemandangan pagi yang membuatku tak dapat menahan diri", aku mengendus kue itu sambil terbayang pada masaku menggilai layang-layang.

Nina terdiam. Ia mendekatkan dirinya ke jok depan. Memandangi kue itu diantara remang cahaya lampu jalan yang jatuh kedalam ruangan. Disebuah persimpangan aku berhenti menunggu lampu hijau menyala. Seorang bocah perempuan yang menginjak remaja memainkan gitar kecilnya dari balik kaca luar, entah 'pertunjukan' lagu apa yang sedang ia gelar. Aku menyorongkan dua keping koin lewat kaca yang hanya aku turunkan beberapa senti demi alasan keamanan. Ia mengambilnya dengan sopan namun dua anak lainnya berusaha memperebutkan. Bocah perempuan itu tak marah dan terlihat mengalah ketimbang harus tunduk pada amarah. Uang itu pun berpindah tangan pada remaja laki-laki yang terlihat lebih tua. Tapi kemudian remaja laki-laki itu memberi sepotong roti sebagai ganti. Anak perempuan itu tertawa gembira. Roti itu pun dimakannya.

Tiba-tiba aku teringat kue-kue ku. Aku meliriknya cepat dan mengambil sebagian. Dengan spontan aku membuka kaca, bukan beberapa senti, tapi membuka seluruhnya. Aku menjulurkan kepalaku keluar tanpa menghiraukan hal-hal buruk yang mungkin kudapatkan.

"Kalian mau kue?", teriakku seraya menyodorkan kotak kue pada mereka.

Remaja laki-laki itu mendekatiku dan tersenyum sopan. "Terima kasih ya, mbak".

"Itu ibu... Bukan, mbak", protes bocah perempuan itu.

"Eh iya, makasih bu", ralatnya.

Aku tersenyum dan menutup kaca mobil. Kali ini kulihat tak ada ajang perebutan, mereka mengambilnya dengan berurutan.

"Harta karunmu berpindah", kata Nina.

"Biar. Aku sudah mengantongi harta karun baru dikepalaku".

"Harta macam apa?"

"Harta yang melimpah dua kali lipat dari hartaku sebelumnya. Dua kebahagiaan masa muda yang tinggal dikepala".

"Aku tak mengerti", tukas Nina.

"Besok sore datanglah ke beranda. Kau akan melihatku bersama secangkir teh hijauku dalam cangkir berbunga, asap rokok putihku yang berkepul ke udara dan deraian tawa yang ada dikepala. Deraian tawa milikku bersama teman kecilku dibawah bayang layang-layang dan juga derai tawa anak-anak jalanan itu diatas aspal yang berdebu. Derai tawa yang akan aku simpan dalam kenangan kue harta karunku."

Nina terdiam. Lampu lalu lintas sudah berganti hijau saat kudapati Nina turun dan menghampiri remaja-remaja tersebut.

"Nina, kita harus pergi", teriakku.

"Pulanglah tanpa aku. Aku sedang cemburu. Seharusnya dulu tak kubuat sebuah keputusan dungu tentang mengakhiri hidupku agar hari ini bisa kumiliki harta karunku sendiri".

Aku pun berlalu. Dari spion mobil masih sempat kulihat Nina bersama para remaja. Nina sibuk menjaring deretan derai tawa mereka dengan baju tipis ditubuhnya. Mungkin Nina akan membawanya serta sebelum corong mesjid meneriakan tentang subuh yang hempir tiba, menyimpannya dan mengenangnya bersamaku di beranda saat senja.

*Aku, Nina, para remaja... Diatas aspal musim panas yang mengganas, diantara mesin yang menderu dan kantuk yang mendera*

Rapor bapak


Tiga pasang sepatu tergeletak didepan teras. Aku mengintip melalui jendela. Diatas meja tergelar empat air bening dalam gelas dengan isi yang hampir tandas. Disudut ruang tamu sempit itu bapak sibuk mendengarkan tamu-tamu. Kulihat daun telinganya jadi parabola seperti dirumah-rumah orang kaya. Keduanya melebar, menangkap transmisi dalam komunikasi yang berusaha ia fahami. Sesekali ia mengangguk lalu tertunduk. Belum pernah kulihat bapak seserius itu. Ah, aku tak mengerti.

D
ua lembar kertas mampir keatas meja. Yang satu mampir ke tangan bapak dan ditanda tangani. Yang satu masuk ke tas bapak dan disimpan rapi. Itu kertas apa? Aku bertanya-tanya dalam hati. Ah, aku masih tak mengerti.

Ibu muncul dari kebun tetangga. Aku menariknya dengan tiba-tiba.

"Bu, itu polisi?", tanyaku.

"Sekuriti", ujar ibu.

"Bapak nekat lagi?". Aku mulai khawatir.

Ibu menggeleng. "Bapak akan digaji".

"Pencuri digaji?"

"Bapak dijadikan sekuriti, agar mereka tak lagi khawatir tentang malam sepi. Agar pak haji tak kehilangan ayam jagonya lagi, agar warga berhenti bertanya-tanya tentang harta benda yang raib di dini hari, agar bapak mengerti bahwa dengan gaji tak perlu lagi menjadikan sulit pangan sebagai alasan basi untuk mencuri.

Aku melirik tiga pasang sepatu. Bapak akan mengenakan sepatu seperti itu nanti, lengkap dengan seragam yang tersetrika rapi. Aku tak mengira nasib bapak akan berubah secepat ini. Ah, aku masih berusaha mengerti!

Ibu melirik kedalam lewat jendela sambil berbisik padaku, "Mereka sudah lelah menasehati, mereka lebih senang mempensiunkan bapak dari jabatan pencuri".

Aku termangu. Bulan depan bapak akan bergaji. Bulan depan akan ada lauk dan nasi disetiap hari. Halal! Bukan hasil caci maki. Ah, aku bersyukur pada Illahi.

*Pagi menjelang akhir pekan kala mata ini sulit dipicingkan*

Aku, Saya Yang Nyata



"Mereka bilang kamu orang aneh", kata Nina.

"Bukankah lebih aneh bila mereka terlalu menyibukkan diri dan bergunjing tentang perbedaan dan keunikan saya tanpa mau tahu siapa diri saya selain dari apa yang terlihat diluar saja?"

"Mereka juga menyebut-nyebut tentang psikopat", celotehnya

"Hanya karena saya terlalu menikmati keadaan emosional secara mendalam dan sulit mengadaptasikan dengan hal-hal yang umumnya menjadi aturan bersikap dalam idealisme kehidupan? Bila demikian, biarkan saya menjadi apa yang seperti mereka pikirkan.

Nina memandang saya. "Tubuhmu serupa kaca. Dengan bayangan saya didalamnya". Lalu ia duduk disamping saya. Menanti pagi yang mulai merambah hari.

*Pagi emosional, saat bom nuklir (sangat) dibutuhkan untuk jatuh diatas tumpukan opini-opini dangkal*

Agustus 13, 2012

Bunting

"Tengah malam sebentar lagi. Aku akan membawamu kerumahku, sahabat", ajakku.

"Apa gerangan yang kau buat tengah malam nanti, wanita besar?"

"Aku akan melahirkan sekeranjang mimpi".

"Kau hamil?"

"Ya. Rahimku telah dibuntingi tubuh-tubuh berisi harapan minggu lalu. Malam ini aku akan berpesta untuk bayi mimpiku dan kau, sahabat baikku".

"Jadi lah bila begitu!"

Dan aku pun tersenyum lalu melenggang. Pulang. Membawa serta calon bayiku dan juga sahabat baik ditangan kananku, si rokok putih yang hampir hambar dimakan malam.

Sudut ramadhan

Rokok ia hisap. Cuma itu penawar gaduh ditelinga. Rengekan nona kecil soal sepatu sekolah yang mulai bolong dan bahan pangan yang kosong tak lagi memenuhi lorong telinga, suara-suara itu sudah terseret paksa bersama asap yang membumbung.

Tapi rokok itu pun habis, bayangan pahit kembali mengiris. Pahit yang telah bertahun-tahun ditenggak nona kecilnya. Pahit yang berupa serbuk, pil, kapsul, dan cairan yang harus masuk kedalam tubuh nona kecil ayu dirumahnya. Nona kecil yang lahir dari rahimnya setelah banyak sperma berjejal disana. Nona kecil yang kini tengah sibuk menombaki penyakit dengan semangatnya.

Ia pun menenggelamkan semua dengan menari. Bergoyang dengan peluh yang luluh dari pori-pori kulit kepala hingga selangkangan yang menua. Gaun tipisnya selalu terserak entah kemana. Usia muda sudah mulai meninggalkannya dan ia tetap berdiri menanti banyak tangan-tangan genit yang akan menggamit. Ia tertawa-tawa untuk bahagia mereka, berseloroh dalam lantur agar duka mereka terkubur. Lalu dalam sesaat ia sudah tenggelam, mengukir tumpukan nilai nikmat. Dan ia tetap menutup telinga dari sebutan pelacur tua, dan sesungguhnya itu membuatnya merasa tetap baik-baik saja.

Pagi menjelang. Ia pulang. Nona kecil ayunya terbaring tak bergerak. Dingin. Ia tertidur setelah lelah menunggu bunda tersayangnya dalam sebuah do'a di dini hari buta. Sebuah kitab suci menempel ditangan, menemani tidur panjangnya, tidur yang telah mencabut sakitnya. Tidur yang diharapkan membawa bundanya kembali pada ramadhan.

Jasad bernama harapan

Nina kembali. Terduduk diteras rumah menjelang subuh tadi. Aku ingin mengusirnya agar ia tak menjadi hantu kesiangan. Tapi aku segera teringat bahwa ini ramadhan, para pemburu hantu pasti sedang sibuk beribadah di rumah Tuhan. Maka kubiarkan ia duduk dikursi berdebu, menunduk bisu. Aku menarik kursi, mendudukan bokong besarku diatasnya. Kami terdiam sekian lama, airmataku mulai bergulir diatas pipi yang mulai menua. Aku terisak, persis seperti Nina.

"Kesetiakawananmu tak kupungkiri", kata Nina dengan suara yang sedikit parau.

"Sebab apa hingga kau simpulkan aku dengan demikian?"

"Kau turut berduka saat aku berduka. Padahal kau pun tak tahu pasal".

"Pasalmu memang aku tak menahu. Tapi bukan itu yang mendera hatiku. Aku menangis karena aku baru saja melihat kematian".

"Kematian?"

Aku tak menjawab. Aku bangkit dari dudukku.

"Kemana kau hendak beranjak?", sergahnya.

"Mengubur jasad yang baru mati".

"Jasad siapa?"

"Jasad harapan yang kau seret semalaman hingga ke teras rumahku. Jasad yang kau pilih untuk mati dalam tangis ketimbang kau pertahankan dalam genggaman".

Nina membisu. Teriakan muadzin menggema dari pengeras suara. Memanggil semua yang bernafas untuk bersujud ikhlas dan menyentak hantu gentayangan agar pulang ketempat mereka bersemayam. Nina pulang dan suatu saat nanti ia pasti akan kembali, menyapaku dari seberang telpon yang sep

Juntai

Tadi malam aku melihat Nina berkelebat disampingku. Ia berdiri disudut teras sebuah surau. Gaun putihnya menyentuh lantai dan tangan dinginnya dipenuhi benang-benang menjuntai. Ia menatapku, suatu perintah keras agar aku mengambilnya dengan bergegas.

"Boleh kutahu apa yang harus kulakukan dengan ini semua?", tanyaku.

"Menyulam hidupmu".

"Tapi aku tak ingin menjadikan hidup ini sebagai sebuah sulaman, melainkan lukisan".

"Lukisan mana yang kamu ceracaukan? Lukisan berisi awan yang warna birunya kamu sita dari laki-laki durjana? Lukisan berisi mawar yang indahnya kamu torehkan dari raungan kamar ke kamar? Lukisan berisi deretan melati yang wanginya kamu curi dari lumbung hati suami-suami sepi? Lukisan batu yang kau agungkan macam safir biru?"

Aku tak bersuara.

"Mulailah menyulam. Hati-hati dengan pilihan polamu, atau kamu hanya akan melebur detikmu dalam sebuah kesia-siaan berbentuk kesimpang siuran".

Aku mengangguk.

"Dan hentikan menggauli banyak lebah madu dan ular dibawah batu. Bukan bisa mereka yang akan membuatmu mati, tapi janji-janji berlafal Tuhan yang takkan terpenuhi", tegas Nina.

Mataku berkaca-kaca. Bayang Nina ikut lebur didalamnya.

*Sebentuk alur dan penokohan pagi menjelang akhir ramadhan*

Juni 18, 2012

Pulang


Di jendela pagi, saat semua harus berpulang. Tertinggal hati, semalam kutuai setumpuk senang. Sisi hati mengaduh, sisi otak menghardik keluh. Tak habis memperkarakan pagi yang mencandu malam dan malam yang hanya setarik candu.



Menunggu


Siang ini aku akan sibuk mengail hari, setelah itu aku akan berdiri dibatas senja. Menunggu kedatangan mayat siang yang akan ditandu ratusan deret menit lalu dikuburkan diatas bukit. Pisau kecilku sudah kuselipkan dibalik senyum, ujungnya akan kupakai untuk menikam sepi malam nanti. 

*Mengerling dan mengikik pada matahari yang sedang sombong-sombongnya pada siang ini*

Juni 17, 2012

Disudut sore

Sore disudut cafe kecil, masih terduduk bersama Nina. Aku menarik sebatang rokok dari bungkusnya dan meleburnya menjadi abu.

"Sore ini aku menantimu bertutur", Nina membuka suara. "Kepalamu sudah membesar, isinya perlu kau pecah agar kau tak gusar".

Aku menarik batang rokok terakhir. "Mendekatlah. Aku ingin berkhayal bersamamu...
KEMARIN DULU acap kali aku merapat ke kasur tua berisi kapuk-kapuk berdebu itu, berlapis sprei warisan milik ibu. Warna putih sudah serupa warna abu, tahun-tahun sebelumnya banyak jejak kaki nakalku melompat disitu. Wangi menyebar. Bau kamper. Ibu sudah menyimpannya dilemari selama 3 hari setelah sibuk mencuci. Bau kamper... aku rindu kamper dikamarku. Rindu masa lalu berbau kamper.

HARI INI aku akan merapat ke kasur asing dengan pegas didalamnya, berhias sprei tanpa bunga-bunga diatasnya. Masih ada sisa wangi cucian barunya, malam-malam sebelumnya banyak tumpahan cairan cintaku disana. Gairahku menyebar. Bau kelaki-lakiannya muncul lagi. Kami sudah terbiasa berkutat dikamar sempit ini setelah makan malam berdua. Bau pria... aku rindu kamar sempit disana. Rindu caranya membuatku mendesah.

ANGAN SOAL MASA DEPANKU, aku merindukan kasur empuk. Aku terbaring dengan bacaan ringan pelepas lelah. Disampingku ada laki-laki yang resmi dipanggil ayah karena kami telah meletakkan nama-nama kami dalam akta nikah. Gairah hidupku berbinar. Aku akan jadi ibu, meletakkan kamper dilemari untuk sibuah hati seperti ibu. Aku akan bercinta dengan pasangan hidup yang ku panggil ayah. Bila perlu kan kubuat pintu lemariku menganga saat bercinta. Agar ku ingat tentang kamper dari masa laluku, gelora gila hari ini, dan angan tentang mesra hari tua".

"Anganmu... Serupa anganku", kata Nina. Ia menerawang pada mimpi tentang kekasihnya.

"Ini tentang bercinta. Selebihnya dari cerita itu aku tak faham mengenai cinta". Aku mematikan rokokku. Meninggalkan Nina dan belasan puntung rokok dalam asbak coklat tua.


Nina

Ponsel saya berdering. Itu Nina, hantu yang terus mengetuk pintu depan rumah saya. Suara paraunya  menyapa diseberang sana, memenuhi telinga saya. Saya terdiam, membiarkan ia membuka suara...

"Kawan, saya terbangun dipagi ini. Lagi-lagi saya meng-hamdalah-kan penambahan waktu yang diberikan Tuhan pada saya. Saya mengerjap mata sembab setelah bangun dari tidur yang tak pernah dibilang teratur. Saya tidak tahu berapa jumlah umur tersisa yang tercatat pada notes sang Pencipta. Entah mengapa hari ini saya terpikir tentang waktu tersisa, sementara rasanya baru kemarin hidup ini bermula. Saya masih memuja cara berpikir saya tentang memudahkan nilai kebahagiaan yang Tuhan beri menjadi keping hura-hura, mengecilkan nilai dosa, melegalkan semua yang saya kira menjadi pembenaran logika. Saya ingin menutup mata tentang jumlah usia yang menjadi angka  pasti dalam phase kehidupan saya. Tapi terkadang saya bergidik melihat perempuan lain mengerang pada saya. Membuat saya tak bisa menghindari fakta dosa dalam usia...

Kawan, mereka yang bergantian menangis tentang bersuami tapi terkhianati, beranak tapi mereka melunjak, berkecukupan tapi terabaikan, bahagia tapi penuh drama, miskin dusta tapi minus romansa. Mereka mengabari saya tentang suasana hatinya.  Berceloteh bahwa mereka akan  membuang sesaknya, mengail pikiran-pikiran indah, memburu haru biru dalam kisah nirwana, melambung dalam hiruk pikuk pelataran kesenangan, bahkan bertanya pada saya tentang mampu kah saya mencarikan bubuk setan untuk melepaskan lelahnya. Mereka terdengar seperti teriakan perawan hanyut disungai, tergiang ditelinga saya. Lalu mereka pun larut pada ladang kesenangan mereka. Menjadi tamak, kasar dan liar. Memonopoli dosa dan mengadopsi nista untuk obat penebus airmata. Dan hidup mereka pun hampir serupa dengan saya, menjadi manusia yang tak pernah mendapati matahari untuk dijumpa. Hidupnya serba tentang kelam, tentang bersenandung dalam dingin malam.

Kawan, lalu hari itu saya terbangun dengan isi kepala tak menentu. Itu pertama kalinya dalam beberapa tahun saya melihat terang. Matahari! Itu matahari! Saya hidup disiang hari! Itu keajaiban! Itu rekor yang harus dirayakan! Saya berlari keluar, saya berdiri didepan jendela, ada tubuh berisi saya didalam bayangan. Disana juga ada benda yang jelas tertera, keriput saya. Astaga! Setua inikah saya? Berapa usia saya? Kapan saya melewatkan usia kepala tiga saya? Kapan saya berada diusia ini? Seingat saya, saya tak pernah amnesia. Saya menangis hari itu. Saya merasa sia-sia. Siang itu pun sirna, kelam langit malam menghampiri saya, merangkul dan mengajak saya bergumul dibawah butiran bintang.

Kawan, saya ingin berlari dengan daster saya, dengan mata sembab saya. Saya ingin menciduk wanita-wanita dari lantai dansa, kasur durjana, cafe maksiat penyedia obat keparat, juga perkumpulan yang berujung dengan pergumulan. Menyelamatkan mereka dari dunia yang tak seharusnya. Tapi langkah kaki saya tersendat disatu sudut, saya mengumpulkan titik perspektif pandangan mata saya pada bayang laki-laki. Laki-laki yang bukan milik saya, tapi nekat saya akui menjadi milik saya. Laki-laki yang menjadi alasan saya menempatkan egoisme saya atas sesuatu yang terus saya sebut-sebut sebagai cinta. Saya singgah disana, lupa pada wanita-wanita yang harus saya kembalikan. Saya bercinta dengannya dibawah bintang, saya meneguk haus kerinduan yang menggunung hingga dering telpon dari perempuan miliknya diseberang sana pun pasti terabaikan. Dan saya pun menggulung keresahan tentang gundah  itu dalam ciuman-ciuman hangat bertubi. Saya tidak ingin mengingat ini sebagai dosa baru. Saya ingin menutup ingatan bahwa saya sudah menambahkan sesosok tokoh nelangsa, wanita baru yang kemungkinan besar akan  menggabungkan pecahan hatinya dengan wanita-wanita teraniaya diseberang sana. Wanita yang akan berteriak bagai perawan hanyut, mungkin juga menjadi wanita yang akan menumpahkan lukanya pada pikiran-pikiran durjana, menjadi wanita yang mengusung perih hidupnya sebab laki-lakinya tersita bersama saya. Ma'afkan saya, wahai dunia. Ma'afkan saya, kawan..." 

Dan saya tetap terdiam meski isaknya membahana. Saya tahu perlahan tapi pasti suara Nina akan memudar, dirampas jujur yang mulai mengakar. Nina menutup telponnya. Tersisa saya dan ponsel tua.


Sakit

Negeri sim salabim sedang terbaring dikamar VIP sebuah rumah sakit. Kepalanya retak, bajunya koyak-koyak. Ia meraung-raung. Aku mengintipnya dari sudut gelap
 
“GALAU!”, katanya.

"Kau sakit apa?", tanyaku sangat pelan.
 
“Aku sekarat, bebanku semakin berat. Pagar-pagar aturan patah diterobos, hal-hal gratis harus berongkos. Si bisu dan sibuta selalu kalah, si banyak akal sering pongah. Si penis mulai mengenakan BH macam pemilik vagina, si vagina meradang karena mampu berotot namun tetap dianggap nomor dua. Bayi-bayi kurus dan miskin merengek susu dari payudara kendur, bayi-bayi montok tersingkir dari ibu yang tak tahu bersyukur. Cerita si miskin menjadi program di tivi, kelakar si kaya menjadi tontonan digubuk-gubuk sepi”.
 
Negeri sim salabim bergetar, mencoba tegar.
“Semoga kau lekas sembuh”, kataku lembut.
 
Aku beringsut menjauh. Kembali ke selasar rumah sakit. Duduk tertunduk dan beku membisu. Obat untuk buah hati harus ditebus, sementara uang hasil mengais sampah sudah tergerus.

Mendua


Jatuh cinta itu tak mengenal logika. Seperti juga seseorang pun tidak dapat menjelaskan mengapa seseorang bisa kembali jatuh cinta lalu mendua. Dan kemudian ia menunjuk hatinya sebagai tersangka yang tidak bisa menolak kehadiran rasa sebagai alasan pembenaran. Lalu setelah itu ia hanya diam termangu dalam haru biru dinding-dinding yang terlihat merah jambu.


Januari 01, 2012

Kretek

Asap berkepul-kepul dari bibir menghitam. Tak peduli batuk tak kan pernah pensiun dalam hidupnya. Yang dia tahu tembakau itu selalu mengobati gundah hati, mengendurkan kernyit didahi, serta memotong pikiran tingkat tinggi soal atap yang hampir runtuh, istri yang terus mengeluh, seragam anak-anak yang bolong dan mertua yang butuh disokong. Asap kembali berkepul... Itu batang terakhir untuknya. Kemudian ia merogoh saku, tersisa lima ribu. Lalu ia berlalu, beras diwarung butuh ditanak untuk anak-anak. *Episode bapak tua yang merenung dibawah atap Jakarta saat kembang api memenuhi langit, gelas-gelas bergemerincing, dan tawa kaum adam hawa berkelas berderai lepas*

Juni 08, 2009

Pengantin bunga

Rumah bunga-bungaku sedang riuh rendah karena "hati" telah menjadi pengantin cantik hari ini. "Hati" sedang duduk manis bermandikan tetesan wangi surgawi di halaman depan. Bersemburat pipi merah jambunya karena disoraki puja-puji lantunan ikrar pengagungan setia. Namun tak luput, masih juga "hati" bersitegang dengan otak, masih melawan ingatan tentang talak pada suatu kala yang dilontarkan laki-laki bernama harapan. "Hati" bersikukuh tak ingat bahwa ia pernah dicerai dalam penantian bertahun. "Hati" malah tertawa-tawa, melepasi rentetan peluru berisi gula madu dari senjata mungil bernama cinta. Melebarkan senyum sebagai topeng berbentuk pengingkaran halus. Sampai sore ini rumah bunga-bungaku masih riuh rendah. Tapi nanti aku akan mengambil cermin dan akan kukacai wajah kegundahannya. Malam nanti akan kuajak "hati" untuk merenung diatas bukit kepastian, lalu bertutur pada bulan penuh agar bulatnya mau terus bersaksi untuknya tentang harap dan sedu sedannya.

Oktober 16, 2008

Melepasmu

Kemarin dulu aku marah pada dunia. Marah mengapa mawar berwarna merah, marah mengapa fajar disongsong mentari di ufuk timur namun senja di tinggalkan di batas malam? 

Aku juga memurkai si bayu yang menghembus dan menjilati pori-pori kulit dan jiwa ragaku yang sedang kosong. Murka karena tak bisa memaksa nasib berpihak padaku dan bertahan dari sakit kala takdirku tak terelakan. 

Dan malam itu aku pun terlelap dalam sedu sedan, terbangun dengan sembab yang menggantung di ujung pelupuk. 

Hari ini aku diam, bosan menunjuk sudut dunia dan menyandangkan kata salah pada wajah-wajah lain yang tak bersalah atas hari-hari lalu yang benar-benar salah. 

Tapi besok aku tak ingin bunuh diri. Walau harapku putus, walau dunia terik, kendati malam dan siang tetap mengikuti dan memboyong kenangan cita, cinta dan cerca. 

Kalau besok aku putus asa dan berani mati atas kecewa ini, MUNGKIN itu BIASA untukmu. Namun bila aku berani tuk terus hidup dan mengusung luka diri ini, serta kudapati bibirku tetap melebarkan senyum sepanjang hidup, itu LUAR BIASA untukku.

Mencintaimu

Mencintaimu adalah mensyukuri kehadiran dirimu walau aku tau abadi tak mungkin kiranya.
Mencintaimu adalah menikmati tiap detik kebersamaan kita tanpa aku ragu bahwa kau akan berlalu.
Mencintaimu adalah melepaskan dukamu berlalu dengan menjaga deretan kepercayaan yang kau titipkan padaku.
Mencintai itu adalah dua hati yang tahu untuk apa kita bersama dan saat aku harus melepasmu berlalu, aku akan tetap tersenyum untuk bahagiamu.

Juli 16, 2008

Negoisasi hati

Bagaimana bila kau jalani lebih dari separuh hidupmu dan meyakini bahwa inilah bahagiamu yang teramat nyata, titik manis yang tinggal kau jalani secara rutin disisa hidup bersama kekasih abadimu. Namun akhirnya kau tercenung disatu titik lain tuk terhenti sejenak, menangguhkan tawa bahagiamu dan menoleh sejenak ke sudut itu.

Mungkin kau akan tercenung terpaku dengan sedikit kerut dikeningmu atas hal yang terlintas dan berkelebat hebat dalam jasad. Lalu kau mulai tergelitik dan merasa sangat sangat ingin tau. Bahkan merasa sekarat karena ingin dekat. Merasa lapar akan jawaban atas penegasan rasa dan pandanganmu untuk mendatanginya.

Sesaat kau akan bertanya iya atau tidak, maju atau diam, berseru atau jujurmu tertikam. Dan bila kau perturutkan inginmu tuk berhenti disudut itu, maka kau akan mendatangi sudut hatimu dan mengacai warna hatimu yang berubah ranum dan merah jambu. Namun kau menolak dikatakan berpaling meski acap kali tak ikhlas tuk jujur bertandas. Lalu kau tempatkan sedikit pikirmu pada kekasih bertahunmu sementara kau hadapkan hatimu menggeluti manisnya haru biru disudut baru. Dan kau mulai tau dirimu berpaling. Lalu kau sering diam dalam gelap dan sunyi, hingga hanya irama degup jantungmu sendiri yang menggedor ruang telinga dengan ganasnya. Merasakan jantungmu, merasakan tiap sudutnya memompa darah ke sudut hati yang bergolak dan berfikir tentang meyakini itu lumrah meski salah, indah meski kerap bertanya berdosakah.

Biarkan saja degub jantungmu memenuhi ruang kosongmu malam ini, biarkan memompa darah ke kepalamu agar pikirmu bisa tetap di titik bahagiamu, dan biarkan jua kau memihak belahan lain hatimu untuk sudut bahagiamu yang lain dibaliknya. Dan bila baka tak kan ada kiranya haruskah degubmu bersaksi atas hati yang teriris, atau justru kau bahagia berpaling ke titik kau bermula?

Sudut kecil pagi

Pernahkah kau dapati indahnya kilau titik-titik embun diatas sarang laba-laba rapuh saat sinar hangat mentari pagi menyapa dengan semburat merahnya? Kau mencoba membawanya berlari ke tiap sudut belahan dunia, mencoba menghindari putaran gravitasi hanya karena kau tolak sinar terik memerangi indahnya. Kau penuhi lelah pada sudut-sudut jemari kakimu untuk abadinya pagi. Tegarkah kau berlari? Atau letakkan saja embunnya bersama sarang laba-laba disudut sana agar kau bisa terus kembali untuk memuji pendar kilaunya. Jangan lupa, tiriskan tanda tanyamu bila ia tak abadi disudutnya.

Juli 13, 2008

Mendustai hati

Mendustai hati itu seperti saat kau lepas kapal berlayar dan kau berharap ombak menerpanya ke pantai. Seperti saat melepasnya agar berlalu dari hidupmu dan kau sesaki dadamu dengan tangis dan sedu sedan.