Juni 17, 2012

Nina

Ponsel saya berdering. Itu Nina, hantu yang terus mengetuk pintu depan rumah saya. Suara paraunya  menyapa diseberang sana, memenuhi telinga saya. Saya terdiam, membiarkan ia membuka suara...

"Kawan, saya terbangun dipagi ini. Lagi-lagi saya meng-hamdalah-kan penambahan waktu yang diberikan Tuhan pada saya. Saya mengerjap mata sembab setelah bangun dari tidur yang tak pernah dibilang teratur. Saya tidak tahu berapa jumlah umur tersisa yang tercatat pada notes sang Pencipta. Entah mengapa hari ini saya terpikir tentang waktu tersisa, sementara rasanya baru kemarin hidup ini bermula. Saya masih memuja cara berpikir saya tentang memudahkan nilai kebahagiaan yang Tuhan beri menjadi keping hura-hura, mengecilkan nilai dosa, melegalkan semua yang saya kira menjadi pembenaran logika. Saya ingin menutup mata tentang jumlah usia yang menjadi angka  pasti dalam phase kehidupan saya. Tapi terkadang saya bergidik melihat perempuan lain mengerang pada saya. Membuat saya tak bisa menghindari fakta dosa dalam usia...

Kawan, mereka yang bergantian menangis tentang bersuami tapi terkhianati, beranak tapi mereka melunjak, berkecukupan tapi terabaikan, bahagia tapi penuh drama, miskin dusta tapi minus romansa. Mereka mengabari saya tentang suasana hatinya.  Berceloteh bahwa mereka akan  membuang sesaknya, mengail pikiran-pikiran indah, memburu haru biru dalam kisah nirwana, melambung dalam hiruk pikuk pelataran kesenangan, bahkan bertanya pada saya tentang mampu kah saya mencarikan bubuk setan untuk melepaskan lelahnya. Mereka terdengar seperti teriakan perawan hanyut disungai, tergiang ditelinga saya. Lalu mereka pun larut pada ladang kesenangan mereka. Menjadi tamak, kasar dan liar. Memonopoli dosa dan mengadopsi nista untuk obat penebus airmata. Dan hidup mereka pun hampir serupa dengan saya, menjadi manusia yang tak pernah mendapati matahari untuk dijumpa. Hidupnya serba tentang kelam, tentang bersenandung dalam dingin malam.

Kawan, lalu hari itu saya terbangun dengan isi kepala tak menentu. Itu pertama kalinya dalam beberapa tahun saya melihat terang. Matahari! Itu matahari! Saya hidup disiang hari! Itu keajaiban! Itu rekor yang harus dirayakan! Saya berlari keluar, saya berdiri didepan jendela, ada tubuh berisi saya didalam bayangan. Disana juga ada benda yang jelas tertera, keriput saya. Astaga! Setua inikah saya? Berapa usia saya? Kapan saya melewatkan usia kepala tiga saya? Kapan saya berada diusia ini? Seingat saya, saya tak pernah amnesia. Saya menangis hari itu. Saya merasa sia-sia. Siang itu pun sirna, kelam langit malam menghampiri saya, merangkul dan mengajak saya bergumul dibawah butiran bintang.

Kawan, saya ingin berlari dengan daster saya, dengan mata sembab saya. Saya ingin menciduk wanita-wanita dari lantai dansa, kasur durjana, cafe maksiat penyedia obat keparat, juga perkumpulan yang berujung dengan pergumulan. Menyelamatkan mereka dari dunia yang tak seharusnya. Tapi langkah kaki saya tersendat disatu sudut, saya mengumpulkan titik perspektif pandangan mata saya pada bayang laki-laki. Laki-laki yang bukan milik saya, tapi nekat saya akui menjadi milik saya. Laki-laki yang menjadi alasan saya menempatkan egoisme saya atas sesuatu yang terus saya sebut-sebut sebagai cinta. Saya singgah disana, lupa pada wanita-wanita yang harus saya kembalikan. Saya bercinta dengannya dibawah bintang, saya meneguk haus kerinduan yang menggunung hingga dering telpon dari perempuan miliknya diseberang sana pun pasti terabaikan. Dan saya pun menggulung keresahan tentang gundah  itu dalam ciuman-ciuman hangat bertubi. Saya tidak ingin mengingat ini sebagai dosa baru. Saya ingin menutup ingatan bahwa saya sudah menambahkan sesosok tokoh nelangsa, wanita baru yang kemungkinan besar akan  menggabungkan pecahan hatinya dengan wanita-wanita teraniaya diseberang sana. Wanita yang akan berteriak bagai perawan hanyut, mungkin juga menjadi wanita yang akan menumpahkan lukanya pada pikiran-pikiran durjana, menjadi wanita yang mengusung perih hidupnya sebab laki-lakinya tersita bersama saya. Ma'afkan saya, wahai dunia. Ma'afkan saya, kawan..." 

Dan saya tetap terdiam meski isaknya membahana. Saya tahu perlahan tapi pasti suara Nina akan memudar, dirampas jujur yang mulai mengakar. Nina menutup telponnya. Tersisa saya dan ponsel tua.


Sakit

Negeri sim salabim sedang terbaring dikamar VIP sebuah rumah sakit. Kepalanya retak, bajunya koyak-koyak. Ia meraung-raung. Aku mengintipnya dari sudut gelap
 
“GALAU!”, katanya.

"Kau sakit apa?", tanyaku sangat pelan.
 
“Aku sekarat, bebanku semakin berat. Pagar-pagar aturan patah diterobos, hal-hal gratis harus berongkos. Si bisu dan sibuta selalu kalah, si banyak akal sering pongah. Si penis mulai mengenakan BH macam pemilik vagina, si vagina meradang karena mampu berotot namun tetap dianggap nomor dua. Bayi-bayi kurus dan miskin merengek susu dari payudara kendur, bayi-bayi montok tersingkir dari ibu yang tak tahu bersyukur. Cerita si miskin menjadi program di tivi, kelakar si kaya menjadi tontonan digubuk-gubuk sepi”.
 
Negeri sim salabim bergetar, mencoba tegar.
“Semoga kau lekas sembuh”, kataku lembut.
 
Aku beringsut menjauh. Kembali ke selasar rumah sakit. Duduk tertunduk dan beku membisu. Obat untuk buah hati harus ditebus, sementara uang hasil mengais sampah sudah tergerus.

Mendua


Jatuh cinta itu tak mengenal logika. Seperti juga seseorang pun tidak dapat menjelaskan mengapa seseorang bisa kembali jatuh cinta lalu mendua. Dan kemudian ia menunjuk hatinya sebagai tersangka yang tidak bisa menolak kehadiran rasa sebagai alasan pembenaran. Lalu setelah itu ia hanya diam termangu dalam haru biru dinding-dinding yang terlihat merah jambu.


Januari 01, 2012

Kretek

Asap berkepul-kepul dari bibir menghitam. Tak peduli batuk tak kan pernah pensiun dalam hidupnya. Yang dia tahu tembakau itu selalu mengobati gundah hati, mengendurkan kernyit didahi, serta memotong pikiran tingkat tinggi soal atap yang hampir runtuh, istri yang terus mengeluh, seragam anak-anak yang bolong dan mertua yang butuh disokong. Asap kembali berkepul... Itu batang terakhir untuknya. Kemudian ia merogoh saku, tersisa lima ribu. Lalu ia berlalu, beras diwarung butuh ditanak untuk anak-anak. *Episode bapak tua yang merenung dibawah atap Jakarta saat kembang api memenuhi langit, gelas-gelas bergemerincing, dan tawa kaum adam hawa berkelas berderai lepas*

Juni 08, 2009

Pengantin bunga

Rumah bunga-bungaku sedang riuh rendah karena "hati" telah menjadi pengantin cantik hari ini. "Hati" sedang duduk manis bermandikan tetesan wangi surgawi di halaman depan. Bersemburat pipi merah jambunya karena disoraki puja-puji lantunan ikrar pengagungan setia. Namun tak luput, masih juga "hati" bersitegang dengan otak, masih melawan ingatan tentang talak pada suatu kala yang dilontarkan laki-laki bernama harapan. "Hati" bersikukuh tak ingat bahwa ia pernah dicerai dalam penantian bertahun. "Hati" malah tertawa-tawa, melepasi rentetan peluru berisi gula madu dari senjata mungil bernama cinta. Melebarkan senyum sebagai topeng berbentuk pengingkaran halus. Sampai sore ini rumah bunga-bungaku masih riuh rendah. Tapi nanti aku akan mengambil cermin dan akan kukacai wajah kegundahannya. Malam nanti akan kuajak "hati" untuk merenung diatas bukit kepastian, lalu bertutur pada bulan penuh agar bulatnya mau terus bersaksi untuknya tentang harap dan sedu sedannya.

Oktober 16, 2008

Melepasmu

Kemarin dulu aku marah pada dunia. Marah mengapa mawar berwarna merah, marah mengapa fajar disongsong mentari di ufuk timur namun senja di tinggalkan di batas malam? 

Aku juga memurkai si bayu yang menghembus dan menjilati pori-pori kulit dan jiwa ragaku yang sedang kosong. Murka karena tak bisa memaksa nasib berpihak padaku dan bertahan dari sakit kala takdirku tak terelakan. 

Dan malam itu aku pun terlelap dalam sedu sedan, terbangun dengan sembab yang menggantung di ujung pelupuk. 

Hari ini aku diam, bosan menunjuk sudut dunia dan menyandangkan kata salah pada wajah-wajah lain yang tak bersalah atas hari-hari lalu yang benar-benar salah. 

Tapi besok aku tak ingin bunuh diri. Walau harapku putus, walau dunia terik, kendati malam dan siang tetap mengikuti dan memboyong kenangan cita, cinta dan cerca. 

Kalau besok aku putus asa dan berani mati atas kecewa ini, MUNGKIN itu BIASA untukmu. Namun bila aku berani tuk terus hidup dan mengusung luka diri ini, serta kudapati bibirku tetap melebarkan senyum sepanjang hidup, itu LUAR BIASA untukku.

Mencintaimu

Mencintaimu adalah mensyukuri kehadiran dirimu walau aku tau abadi tak mungkin kiranya.
Mencintaimu adalah menikmati tiap detik kebersamaan kita tanpa aku ragu bahwa kau akan berlalu.
Mencintaimu adalah melepaskan dukamu berlalu dengan menjaga deretan kepercayaan yang kau titipkan padaku.
Mencintai itu adalah dua hati yang tahu untuk apa kita bersama dan saat aku harus melepasmu berlalu, aku akan tetap tersenyum untuk bahagiamu.

Juli 16, 2008

Negoisasi hati

Bagaimana bila kau jalani lebih dari separuh hidupmu dan meyakini bahwa inilah bahagiamu yang teramat nyata, titik manis yang tinggal kau jalani secara rutin disisa hidup bersama kekasih abadimu. Namun akhirnya kau tercenung disatu titik lain tuk terhenti sejenak, menangguhkan tawa bahagiamu dan menoleh sejenak ke sudut itu.

Mungkin kau akan tercenung terpaku dengan sedikit kerut dikeningmu atas hal yang terlintas dan berkelebat hebat dalam jasad. Lalu kau mulai tergelitik dan merasa sangat sangat ingin tau. Bahkan merasa sekarat karena ingin dekat. Merasa lapar akan jawaban atas penegasan rasa dan pandanganmu untuk mendatanginya.

Sesaat kau akan bertanya iya atau tidak, maju atau diam, berseru atau jujurmu tertikam. Dan bila kau perturutkan inginmu tuk berhenti disudut itu, maka kau akan mendatangi sudut hatimu dan mengacai warna hatimu yang berubah ranum dan merah jambu. Namun kau menolak dikatakan berpaling meski acap kali tak ikhlas tuk jujur bertandas. Lalu kau tempatkan sedikit pikirmu pada kekasih bertahunmu sementara kau hadapkan hatimu menggeluti manisnya haru biru disudut baru. Dan kau mulai tau dirimu berpaling. Lalu kau sering diam dalam gelap dan sunyi, hingga hanya irama degup jantungmu sendiri yang menggedor ruang telinga dengan ganasnya. Merasakan jantungmu, merasakan tiap sudutnya memompa darah ke sudut hati yang bergolak dan berfikir tentang meyakini itu lumrah meski salah, indah meski kerap bertanya berdosakah.

Biarkan saja degub jantungmu memenuhi ruang kosongmu malam ini, biarkan memompa darah ke kepalamu agar pikirmu bisa tetap di titik bahagiamu, dan biarkan jua kau memihak belahan lain hatimu untuk sudut bahagiamu yang lain dibaliknya. Dan bila baka tak kan ada kiranya haruskah degubmu bersaksi atas hati yang teriris, atau justru kau bahagia berpaling ke titik kau bermula?

Sudut kecil pagi

Pernahkah kau dapati indahnya kilau titik-titik embun diatas sarang laba-laba rapuh saat sinar hangat mentari pagi menyapa dengan semburat merahnya? Kau mencoba membawanya berlari ke tiap sudut belahan dunia, mencoba menghindari putaran gravitasi hanya karena kau tolak sinar terik memerangi indahnya. Kau penuhi lelah pada sudut-sudut jemari kakimu untuk abadinya pagi. Tegarkah kau berlari? Atau letakkan saja embunnya bersama sarang laba-laba disudut sana agar kau bisa terus kembali untuk memuji pendar kilaunya. Jangan lupa, tiriskan tanda tanyamu bila ia tak abadi disudutnya.

Juli 13, 2008

Mendustai hati

Mendustai hati itu seperti saat kau lepas kapal berlayar dan kau berharap ombak menerpanya ke pantai. Seperti saat melepasnya agar berlalu dari hidupmu dan kau sesaki dadamu dengan tangis dan sedu sedan.

Juni 23, 2008

Seperti apa menjunjung nikmat?

Seperti beriring niat dan berulir senyum di awal hari, lalu berkalang syukur di penghujung malam.

Batu biru bertandang ke singgasana bulan tua;

Batu biru bertandang ke singgasana bulan tua dan berkata: “Purnamalah selalu wahai bunda malam! Jangan pernah berlutut tunduk pada si awan hitam atau hujan. Acap kali terinjak diriku yang ayu ini dibawah sana tanpa sinar rupawanmu. Berkenankah mengabulkan satu pinta dari safir indah seperti diriku ini atas jerih payah perjalanan panjangku padamu?”
Bulan tua mengangkat wajah, memandang iba lalu tersembul senyum tipis diatas raut tuanya; “Bila kau telah sanggup habiskan waktu bertahunmu dipenuhi lelah, merayapi langit hanya tuk menjamah singgsanaku dan hanya tuk meludah perihal keluh kesah, mengapa tak mampu dirimu beringsut barang selangkah dalam sekejap agar dirimu tidak terus terinjak dibawah sana?”

Maret 16, 2008

Kuning Ayu

Mata "kuning ayu" berpendar-pendar, namun ceruk duka sisa kecewa masa lalunya masih berkubang nanah. Ada dilema karena harga dirinya kini tengah tertawar harga mati oleh pejantan-pejantan kehausan. Seketika ia merasa permukaan hatinya tercium begitu busuk. Menusuk! Ia biarkan sisa deretan dusta dan munafiknya terkokot rapi di rahim kalbu.

Malam ini pipi "kuning ayu" sudah berwarna macam badut. Merah merona warna warni. Badannya beraroma wangi setan pelantun lafal madu racun. Jarinya gemulai menjadi galah-galah lentik pencabut nominal. 

"Kuning ayu" berdansa menggila, gaun "kuning ayu" terus berkibar-kibar. Diiringi sorak sorai para mulut adam bermulut mesum penuh najis. Mereka berbaur dengan desah dan pujian lantang. "Kuning ayu" terus berpendar-pendar bak bola lampu dilantai dansa. Ia lupa pada putih dan hitamnya langit dunia.

Sementara jendela-jendela tua dikampung sana tengah tertunduk bisu menyertai balita-balita kuning muda disisinya. Punggung tangan mereka terus sibuk menyapu leleran airmata kerinduan mereka. Berharap kelak biang "kuning ayu"nya lekas kembali pada aur-aur tua peneduh lantai tanah di istana rumah bambunya dan merengkuh kembali cadar putihnya untuk mengaji disura.

Februari 15, 2008

Aku juga si serigala


"Hey, serigala!”, aku berteriak sambil berlari mendekati makan malamku. Si serigala terdiam dan memandangi aku. Liurnya telah menetes, matanya melirik makanan di meja. Hidungnya bergerak-gerak membaui aroma makanan hangat. 

“Jangan pernah berpikir untuk mencobanya”, teriakku lagi. “Tak kan ada makan malam untukmu.”

Si serigala menggibaskan ekornya. Mungkin mencoba ingin terlihat lebih bersahabat. 

“Tidak!”, kataku lagi menanggapi pandangan yang mulai berseri menunggu untuk disodori hidangan. Mata besarnya berbinar. Lidahnya menjulur. Lebar. Panjang dan juga basah. Sia-sia kuhalau ia menjauh, serigala terus menempelku. Arrrgh, membuatku jengah. 

“Bosankah mengendap diluar sana? Kemanakah tumpukan daging yang biasa kau dapatkan?” 

Serigala terdiam. Dia menggelosorkan diri keatas karpet. Pilu. Mungkin itu yang ia rasakan karena aku tak kunjung mengisi perut keroncongannya. Biar. Aku sedang kesal. Kemarin makan malam buatanku teronggok begitu saja tanpa disentuhnya. Demikian juga malam-malam sebelumnya. Selalu ditinggalkan. Menjadi dingin. Beku dimakan seringai dingin dan sunyinya malam. Mata besarnya menatapku. Penuh kecewa. Aku terenyuh juga. Ah, ingin aku merengkuhnya. Membelainya. Mendekapnya. Menyibak tiap helaian bulu di tubuhnya. Tapi bayang langkahmu kemarin telah membinasakan belas kasih yang kini mulai tumbuh diotakku. Aku tertunduk berusaha menindas rasa belas kasih yang memberontak untuk di tumpahkan. Serigala mendengus dan bangkit. Perkiraanku bahwa ia akan berlalu dan berlari dari hadapku ternyata harus dipatahkan. Ia justru mendekat. Menggesekan bulu-bulunya ke kulit coklatku. Matanya berlinang. Sungguh, ia menangis. Mulutnya bersuara. Halus namun lebih mirip seperti keluhan. Mataku ikut basah dengan airmata. Belas kasih telah berhasil merangkak masuk dalam relung hati. Menguasai hati dan menancapkan bendera kemenangan untuk sesaat. 

Pandanganku dikaburkan airmata yang ikut membuncah. Samar-samar kulihat bayangnya tak lagi sama. Tak lagi kulihat ekor dan bulu serigalanya. Bahkan ia tak lagi merangkak seperti serigala. Dia mengerang seperti manusia. Ya, manusia. Mahluk yang katanya mulia. Aku terisak. Aku lupa. Aku lupa bahwa ia pernah terlahir sebagai manusia. Bertingkah seperti manusia. Memperlakukan aku bagai manusia. Menikah dengan cara manusia. Menyetubuhi aku dengan cara manusia. Dia manusia. Tapi mengapa sering terlihat seperti serigala? Ataukah dia manusia setengah serigala? Atau serigala setengah manusia? Manusia jadi-jadiankah? Serigala jadi-jadiankah? Kamu siapa, serigala? Siapa? Siapa? Aku bingung. Aku berlari mendekati cermin. Tubuh berisiku mengisi bayang cermin. Ada kulit coklatku, rambut hitamku juga jerawat besar sialanku terpampang disana. Aku berdiri tegak. Dengan dua kaki. Itu berarti aku manusia. Aku bisa bersenandung, berbicara dan menatap bayangku seperti manusia. Aku berputar memeriksa seluruh tubuhku. Ya, Tuhan! Aku terhuyung. Terbelalak pada bagian belakang tubuhku. Aku punya ekor. Seperti serigala. Atau memang aku juga seekor serigala? Aku kesal. Marah. Tak percaya bahwa aku juga mirip serigala. 

Aku mencoba mengingat kapan terakhir aku memeriksa tubuhku sebelum ekor itu bergelayut disana. Mungkin setahun. Atau dua tahun yang lalu? Atau kapan? Kapan terakhir kupandangi diriku di cermin besar itu? Itu sudah lama. Lama sekali. Hampir tak bisa kuingat. Aku tidak lagi pernah sempat berdiri disitu. Aku selalu berlari keluar rumah bila angin menderu dengan derasnya diluar sana. Menghambur ke pintu dan menyatu dengan angin tanpa sempat kulewati kaca walau hanya untuk memeriksa pipi dengan jerawat sialanku. Aku biarkan diri terhempas angin, kemudian pulang dengan kesegaran baru setelah dibuai dalam sapuannya. Ya, tiba-tiba saja aku ingat. Ketika itu belum ada serigala dirumahku. Dulu ada manusia tinggal bersamaku. Benar-benar manusia. Berdiri tegak dengan dua kaki. Mengenakan kemeja setiap kali keluar dari rumah. Kemeja yang aku setrika sendiri dengan tanganku. Dia nafkahi aku dengan uangnya. Uang bergambar manusia. Uang yang akhirnya bisa untuk membeli makanan manusia. Makanan kami. Tapi kemudian ia selalu terdiam didepan mejanya tiap kali selesai makan. Masakanku tak lagi terlihat mengenyangkan baginya. Terlalu asin. Terlalu manis. Terlalu hambar. Terlalu asam. Selalu protes dengan rasa yang berbaur diantara bumbu. Terakhir dia bilang bahwa aroma makanan dari ujung jalan lebih menggoda. Membuatnya selalu terduduk disisi jendela depan rumah. Menikmati semua suguhan makananku sambil membaui masakan dari ujung jalan. Tak apalah bagiku! Asalkan ia tetap menyantap makan malam buatanku. 

Sejak itu meja makan hampir tak pernah berpenghuni. Ia selalu mengendap membaui aroma masakan dari ujung jalan. Merayap mendekati dan menempelkan hidungnya di dinding dapur tampat masakan itu dibuat. Sesekali dia harus pulang dengan keadaaan basah kuyup. Disiram oleh si empunya dapur. Dengan keadaan itu, dia pasti akan makan di mejaku. Menyantap makan malamnya meskipun terlihat seperti asal telan. Bahkan pura-pura sibuk makan, menghindari pertanyaan-pertanyaanku yang kadang tak bisa ia jawab. Aku sering murka. Sering mencacinya sejak itu. Aku bosan. Lelah dengan kemurkaanku. Aku lebih suka berayun dengan angin diluar sana daripada bertengkar dengan cara makannya. Aku berayun dan terus berayun. Sampai kudapati bahwa aku terhempas terlalu jauh dari rumah. Terlalu sibuk dengan angin dan akhirnya lelah. Kemudian aku lapar. Haus, aku butuh makan dan juga minum tentunya. Angin menghantarkanku kesebuah dapur. Semuanya menggoda. Menggiurkan. Membuat liurku menetes. Aku menyantap semuanya. Aku lupa menanyakan apakah makanan itu telah matang. Apakah aku berhak mencicipinya. Mengunyahnya. Menjilatnya. Memasukkan ke kerongkonganku. Aku terlalu lapar. Aku makan semua sampai kenyang dan tertidur. Aku terus kembali kesana. Menghabiskan apa yang ada didapur itu. Berhari-hari. Berbulan-bulan. Entah berapa lama. Aku lupa keberadaan manusia yang biasa makan di meja makanku. Tiba-tiba aku merindukan meja makanku sendiri. Rindu manusia yang selalu bersitegang soal bumbu. Aku ingin pulang. Dan aku pulang. Pulang untuk melihat dia. Berdamai dengannya. Lama aku menunggunya sampai kudapati dia datang dengan cara yang berbeda. Merangkak melalui pintu kecil, menjulurkan lidahnya dan menyalak padaku dengan keras. Manusia yang kutunggu telah menjadi serigala. Kemudian sejak itu aku cuma melihat serigala. Tingkah serigala, obrolan serigala, bahkan rumahku sudah seperti rumah serigala. Berantakan dengan segala hal berbau serigala. Aku mulai malas memasak makan malam. Toh, yang akan ia santap telah menunggu dibalik dapur yang mengepul di ujung jalan. Serigala bisa bebas masuk kesana sejak berdamai dengan si empunya dapur. Dia menyantap semua yang ada disana. Dia lupa menanyakan apakah makanan itu telah matang. Apakah dia berhak untuk mencicipinya. Mengunyahnya. Menjilatnya. Memasukan ke kerongkongannya. Dia terlalu lapar. Dia makan seperti ketika aku bersama angin. Aku terus berdiam. Marah dengan kebingungan yang ada. Kenapa ia jadi serigala? Ataukah dia manusia setengah serigala? Atau serigala setengah manusia? Serigala jadi-jadiankah? Manusia jadi-jadiankah? Kamu siapa, serigala? Siapa? Siapa? Tak bisakah dia kembali jadi manusia lagi? Aku bingung. Aku menatap serigala. Bergantian anatara bayang serigala di cermin dan serigala dihadapanku. Kita berdua seperti serigala. Bertingkah seperti manusia dan serigala. Dari manusia ke serigala, dari serigala ke serigala, dari serigala ke manusia, dari manusia ke manusia kembali, dari manusia serigala ke manusia, dari… Ah! Aku lelah, serigala! Aku ingin kembali. Akhirnya kusodorkan juga makan malam pada serigala. Kubelai bulu halusnya. Kudekap dirinya dan berbisik lirih pada serigala, “Mari jadi manusia pada malam ini. Kita akan tidur ditempat tidur manusia, bercinta seperti manusia lalu bangun dan menjalankan hidup seperti manusia besok. I love you, serigala!”

Februari 02, 2008

Inginku



Kanda, aku ingin jadi semut. Aku akan mengarak deretan sisa bangkai cacing jantan tak bersahaja. Menguliti lapisan ari anyirnya, melemparnya ke kubur gulita.  

Kanda, aku juga ingin bersayap, aku akan mengekor rama-rama betina lainya. Aku ingin ikut mencumbui mahkota mekarnya yang acap kau tepikan, kanda. Setelah itu aku ingin menari indah dengan sayap-sayapku dan menancapkan belati kejantungmu karena aku ingin kau mati saja. Aku muak menyaksikan ujung hayalmu pada rumpun rosa-rosa indah milik tetangga. 

Ah, Ulat! Aku teringat ulat, kanda. Tolong jadikan saja aku ulat! Lidahku sedang kelu, aku ingin belajar merindui pucuk muda dan madu meleleh dari bibir pengelana samudera cinta. Aku ingin mengecapi nafsu, menjejali lilin hangat bagi dahaga cintaku. Dan aku akan tidur lelap disisimu setelahnya. 

Atau... saat aku terjaga nanti, jadikan saja aku lalat! Atau serangga lain serupa anai-anai. Ingin kubuat dirimu membusuk wahai jantan jahanam. Dan kukerdilkan tinggi hatimu. Ingin kulipat kelopak dari mata yang selalu menatapku dengan tenang namun membuatku tersudut tanpa pilihan. Ingin kuhentikan penat yang beriak-riak atas pongahmu. 

Oh, maka jadikanlah aku diriku seperti yang aku mau. Jadikan aku bidadari biru serupa anai-anai, ulat, semut, atau rama-rama.

Bersalin

Hari ini bidadari berulang tahun dirumah sakit untuk bersalin nasib
 Semalam ada bayi mungil lahir, dinamai HARAPAN
Mungil, bersih dan merona. 
"Cium hangatku tuk HARAPAN", kataku tersenyum
 Bidadari pun bersenandung. 
Genta-genta bergemerincing dalam temaram hangat hati, mengisi kisi-kisi kekosongan diri
Na na na
Bidadari berima
La la la
Ia bersenandung mendayu
Du du du
Ia bernyanyi dengan syahdu. 
Peri-peri bergincu merah mengiring sayap bidadari
"Tidurlah intan, lelap lah HARAPAN"
Bunda menciumi dalam buaian
"Selamat datang, HARAPAN"

Menceramahi kata

Berapa harga tuk tutupi hitam agar tersamar putih? 
TIGA BERKALI DASA DIPANGKATKAN ANGKA TAK TERHINGGA
Mahal?? 
SANGAT!
Dimana bisa kudapatkan? 
DIATAS SANA, DIBAWAH TUMPUKAN KERUT LEMAK BUMI ATAU TERSELIP DIANTARA AWANG SERULING BAYU
Jauhkah?
AKU TAK MENAHU
Lalu siapa yang akan terus menginginkan harganya diujung kala?
DIA, PERAWAN TUA ITU, PENARI YANG MERAUNG, PIRANHA LAPAR, ULAR BELUDAK, DINDING-DINDING RETAK, PUSARAN AIR, JUGA PENJINAH-PENJINAH YANG TERLAHIR
Begitu banyak?
TIDAK KAH KAU TERMASUK DIANTARA MEREKA?
 Aku diam. 

Cerita rembulan


Masih ingat kisah si rembulan, kekasih? Yang kemarin naik diatas kereta lembayung senja, turun di batas langit gelap, merayapi lorong langit malam hingga ke barat, dikerlingi bintang-bintang sebagai dayang malam. Biar kukabari cerita hari ini, kekasih. Malam ini rembulan mati. Ditembak burung hantu menjelang pagi. Kesal karena tikus-tikus mungil memujanya namun dituturkan sebagai buruk tak tentu rupa.

Mengkisah Gisha


"Gis, ayo kembali kemari. Menertawai desiran bayu yang menusuki tulangmu. Berkalang dengan tanah surga dewata. Lihat bukit itu! Bantalan lahannya mencanduimu. Menunggu kau merangkak disana dan bergumul dengan debu dakiannya. Gis, setelah itu pergilah ke sungai! Para perawan tanggung sedang berdesakan di tepi sungai. Sedang mengail keluh kesah harap cemas, berkacak di pinggang mungil, dan jari-jarinya terus berselingkuh dengan belahan dada. Mulut mungilnya sedang mengikik pada matahari. Lompatnya ke kanan namun hayalnya kekiri. Mengerutkan kulit jidat tua para tetua. Gis, setelah itu mari kembali kemari! Sembunyi dibilik kasmaran. Hati-hati ditikam mentari sore yang kemarin dulu kau gauli senjanya".

Berkawan setan


Kau tak bahagia walau aku mengiringimu tukmelaknati tangan setan, kawan. Haram katamu, namun kau enggan tuk beringsut pula. Otakmu yang sunyi mulai sekarat ditombaki titik koma. Cagak api-api gelora menjilati hitammu yang mulai padam. 

Sahabat, penggal lengahmu! Atau desah setan akan menyusupi selimut tidurmu, akan melucuti pakaian dalam di otakmu, akan mengupasi dirimu hingga lupa bahwa surga-Nya belum akan tiba. Bakul rintihanmu pasti akan kandas diseret hela kuda-kuda nirwana dunia, juga ringkik iblis, dan jentik jemari halus ular belang. 

Bangun! Bangun dari buaian busur lembayung senja neraka! Kenapa kau tak jua beringsut? Lalu kupandang mayang pekatmu yang menjuntai terurai. Aku terperangah.Ternyata kamu juga setan. Rambutmu juga terbakar merah. 

Kamu setan merah! Jijik aku melihat tetes liurmu. Dendang dendamku menyusupi aorta jantung hati. Tajam mata pisau lelah mengukir kosong jiwaku. Guratnya tak segan menolak sangkalmu. Kamu memang busuk! Pergi saja kamu setan! Aku tak ingin menusukmu dan turut jadi bagian dirimu.