Cahaya temaram jadi milik jangkrik yang menjerit-jerit.
Berdesak sorainya membakar hati.
Tak urung turun murka lelaki muda.
Mengaduhkan bibir lebam, berkeluh soal mata biru.
"Sial! Sial", katanya. Gelap menjerembabkan dalam bau kotor got sial.
Mata pendarnya menawarkan pandu.
Hati mengiba-iba berbalik pulang ke gubuk sunyinya.
Dihantarkan pada bundanya yang tengah berbenah untuk pekan di dini hari buta.
Ia menyergah, menghentak keras pada deretan gelap yang siap menghantar langkah kaki tua.
Gelap pun tunduk, bunda turut menunduk.
Lelaki muda berlutut.
Air mata terurai.
"Sedih! Pedih, bunda."
Tangan-tangan kotor terjulur.
Kosong, berdarah, bau.
Bergetar menyesali gagal.
Tak akan ada semangkuk sayur lezat yang akan berdesakan dengan piring-piring lauk diatas meja siang nanti,
tak juga sanggup membeli segelas susu yang kabarnya sarat gizi,
tak sanggup pula mentitah mantri pintar mengusung obat-obat mahal untuk pensiunkan batuk bunda.
Ia tertunduk, menciumi kulit-kulit keriput sang bunda, memohonkan satu bulat penuh kata ma’af. Melengkapi ma’afnya kemarin, kemarin dulu, minggu lalu, tahun lalu, hari lalu yang berlalu.
"Lelah! Lelah, bunda! Ingin meniduri pangkuan bunda setelah memenuhi tubuh laparku dengan bogem-bogem mentah hasil berangan untuk bahagia satu hariku hari ini.
Tidur! Iringi aku tidur bunda.
Tidur tuk melepaskan lapar kita siang ini bunda."


0 komentar:
Poskan Komentar